Orang Tua dan Guru

pengaruh Latar Belakang Keluarga terhadap Hasil Belajar di Sekolah

       Menurut John Simmons dan Leigh Alexander (1983) latar belakang keluarga biasanya berkaitan dengan status sosial ekonomi keluarga. Status sosial ekonomi ini biasanya mempergunakan indikator pendidikan keluarga, pekerjaan, dan penghasilan orangtua. Beberapa penelitian juga memasukkan indikator-indikator lain seperti harapan siswa, harapan keluarga, harapan masyarakat setempat terhadap hasil belajar anak serta sikap mereka terhadap hasil belajar. Hasil penelitian yang dilaksanakan di India, Chile, Iran, dan Thailand yang dilaporkan oleh Thorndike menjelaskan bahwa latar belakang keluarga itu dapat menjelaskan perubahan prestasi belajar antara 1,5% sampai 8,7%. Jika dikontrol dengan indikator-indikator yang berasal dari sekolah seperti kualitas pengajaran, fasilitas sekolah, jumlah siswa dalam kelas dan sebagainya, hasil test menunjukkan sumbangan latar belakang keluarga itu tidak signifikan.

       Sebenarnya, sekolah sebagai sebuah institusi mempunyai kewajiban yang besar terhadap orangtua, sebaliknya juga orangtua juga punya kewajiban yang tak kalah banyaknya kepada sekolah. Apabila kewajiban dan tanggung jawab itu dapat berlangsung dengaan baik maka sekolah akan makin maju karena mempunyai orangtua (baca Klien) yang selalu mendukung dan memberikan empati terhadap apa yang institusi sekolah lakukan bagi pendidikan putra putrinya. Banyak riset yang membuktikan bahwa keterlibatan orangtua yang banyak dalam proses pendidikan anaknya terbukti membawa pengaruh yang baik dalam kehidupan akademisnya. Dengan demikan, sebuah pola hubungan yang harmonis antar orangtua dan sekolah harus diciptakan dan dibina.

Berikut ini adalah jalan untuk menciptakan harmonisasi tersebut;

1.      Upayakan selalu kontak anda dengan orangtua selalu dalam nuansa yang positif.

Cobalah hindari jargon atau istilah yang rumit dalam bidang pendidikan yang orangtua tidak mengerti.

2.      Berdayakan buku komunikasi, gunakan buku itu untuk menceritakan apa yang siswa pelajari, pemberitahuan mengenai PR, memberikan pujian serta pemberitahuan lain mengenai anak didik kita.

3.      Adakan pertemuan dengan orangtua seluruhnya saat tahun ajaran baru dimulai, kenalkan diri dan biarkan orangtua menyampaikan kekhawatiran serta harapan mereka terhadap kita sebagi guru, kaitannya dengan proses pendidikan putra-putrinya.

4.      Cobalah untuk selalu mengerti kesibukan orangtua anak didik kita.

5.      Ajak orangtua untuk menjadi relawan di kelas kita, menjadi bintang tamu saat pembelajaran mengenai topik atau yang lainnya.

6.      Jadikan orangtua juga sebagai sumber belajar.

7.      Adakan pelatihan mengenai pendidikan anak. Hal ini penting agar ada kesinambungan antara pola asuh dirumah dan disekolah.

8.      Adakan workshop mengenai peningkatan akademis anak didik. Judulnya misalnya; ‘Bagaimana mengajarkan matematika untuk anak’.

9.      Jadikan situasi pengambilan rapor anak didik sebagai jalan untuk merayakan keberhasilan dan pencapaian siswa.

 

   Fungsi/Peran Guru dan Orangtua

       Melirik posisi guru bagi peserta didik sama dengan posisi orangtua mereka sendiri. Hanya saja bedanya bukan orang yang melahirkan mereka. Guru adalah orangtua kedua bagi anak-anak ketika mereka berada di sekolah. Sedangkan orangtua mereka yang pertama adalah orang yang melahirkan mereka lahir atau yang ada hubungan pertalian darah. Dari hal itu, terlihatlah bahwasanya walau posisi berbeda namun peranannya hampir sama sehingga sudah sepantasnya kedua orangtua tersebut berpartisipasi dan berinteraksi aktif guna membangun perkembangan anak yang mapan. Dalam upaya menempatkan fungsi dan peran di lingkungan sekolah, orangtua siswa juga dapat bergabung dengan komite sekolah dengan ketentuan-ketentuan yang ada.

 

  Hubungan Keluarga dan Guru Sekolah

       Orangtua mempunyai peranan penting ketika anak-anak pulang dari sekolah dan guru memiliki peranan penting ketika di sekolah dan bahkan di luar sekolah. Guru adakalanya memberikan penjelasan mengenai metode belajar-mengajar yang dilakukannya. Ketika anak mulai sekolah, segera perkenalkan diri Anda kepada gurunya. Jangan menunggu waktu hingga Anda dipanggil ke sekolah karena anak bermasalah. Carilah jalan untuk melakukan kontak dengan mereka, walau sekedar dengan sapaan "apa kabar," agar wajah dan nama Anda mudah diingat oleh sang guru.

       Jika kemungkinan waktu untuk bertemu sangat terbatas, usahakan menghubungi bapak/ibu guru untuk menayakan kepada mereka waktu yang nyaman guna menanyakan kabar seputar perkembangan pendidikan anak Anda. Tidak perlu melakukan percakapan panjang, carilah sekedar informasi dan tunjukkan bahwa Anda sangat perhatian dengan pendidikan anak-anak.

       Berikanlah perhatian besar terhadap rencana pembelajaran dan pengajaran yang sudah disusun. Jika ia belum memberitahukannya kepada Anda, maka tanyakanlah. Biasanya guru sangat senang jika orangtua juga berkenan mengetahui target pelajaran yang ia tetapkan. Tapi, jangan langsung mengkritik mereka jika Anda merasa ada hal yang kurang cocok. Berikan penilaian positif jika Anda mendapati hal yang memang baik untuk kemajuan pendidikan anak.

       Guru juga manusia biasa, yang kadang mengalami hari dan waktu yang buruk. Kadang kehidupan pribadinya dilanda krisis dan masalah, dan bisa jadi mereka tidak bisa mengatasinya dengan baik. Jika guru membentak anak Anda dan melakukan hal di luar kewajaran, tanyakan kepadanya apakah ia baik-baik saja. Sedikit memberikan dukungan kepada guru, akan membuat keadaan pulih dengan segera.

 

Pengaruh Keluarga Terhadap Pendidikan di Sekolah

       Benyamin S. Bloom (1976) menyatakan bahwa lingkungan keluarga dan faktor-faktor luar sekolah yang telah secara luas berpengaruh terhadap siswa. Siswa-siswa hidup di kelas pada suatu sekolah relatif singkat, sebagian besar waktunya dipergunakan siswa untuk bertempat tinggal di rumah. Keluarga telah mengajarkan anak berbahasa, kemampuan untuk belajar dari orang dewasa dan beberapa kualitas dan kebutuhan berprestasi, kebiasaan bekerja dan perhatian terhadap tugas yang merupakan dasar terhadap pekerjaan di sekolah. Dari uraian ini, dapat diketahui lebih lanjut bahwa kecakapan-kecakapan dan kebiasaan di rumah merupakan dasar bagi studi anak di sekolah.

       Suasana keluarga yang bahagia akan mempengaruhi masa depan anak baik di sekolah maupun di masyarakat, dalam lingkungan, pekerjaan, maupun dalam lingkungan keluarga kelak (Sikun Pribadi, 1981, p. 67). Dari kutipan ini dapat diketahui bahwa suasana dalam kelaurga dapat mempengaruhi kehidupan di sekolah.

       Menurut Erikson yang dikutip oleh Sikun Pribadi (1981) bahwa pendidikan dalam keluarga yang berpengaruh terhadap kehidupan anak di masa datang ditentukan oleh (1) rasa aman, (2) rasa otonomi, (3) rasa inisiatif. Rasa aman ini merupakan periode perkembangan pertama dalam perkembangan anak. Perasaan aman ini perlu diciptakan, sehingga anak merasakan hidupnya aman dalam kehidupan keluarga. 

       Rasa aman yang tertanam ini akan menimbulkan kepercayaan pada diri sendiri. Anak yang gagal mengembangkan rasa percaya diri ini akan menimbulkan suatu kegelisahan hidup, ia merasa tidak disayangi, dan tidak mampu menyayangi. 

       Fase perkembangan yang kedua adalah rasa otonomi (sense of autonomy) yang terjadi pada waktu anak berumur 2 sampai 3 tahun. Orangtua harus membimbing anak dengan bijaksana agar anak dapat mengembangkan kesadaran, bahwa ia adalah pribadi yang berharga, yang dapat berdiri sendiri dan dengan caranya sendiri ia dapat memecahkan persoalan yang ia hadapi. Kegagalan pembentukan rasa otonomi, suatu sikap percaya pada diri sendiri dan dapat berdiri sendiri akan menyebabkan anak selalu tergantung hidupnya pada orang lain. Setelah ia memasuki bangku sekolah ia selalu harus dikawal oleh orangtuanya. Ia selalu tidak percaya diri sendiri untuk menghadapi persoalan yang dihadapi di sekolah. 

       Pada fase perkembangan ketiga disebut perkembangan rasa inisiatif (sense of initiative) yaitu pada umur 4 sampai 6 tahun. Anak harus dibiasakan untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam lingkungan keluarga. Sebab dengan dibiasakan menangani masalah hidupnya maka anak akan mengembangkan inisiastifnya dan daya kreatifnya dalam rangka menghadapi tantangan hidupnya. Jika orangtua selalu membantu dan bahkan melarang anaknya untuk mengerjakan sesuatu hal maka inisiatif dan daya kreasi anak akan lemah dan akan mempengaruhi hidup anak dalam belajar di sekolah.